MPR RI MENGUTUK KERAS TEROR TERHADAP WARTAWAN, NARASUMBER, DAN PANITIA DISKUSI UGM
0 Komentar 6423 pembaca

MPR RI MENGUTUK KERAS TEROR TERHADAP WARTAWAN, NARASUMBER, DAN PANITIA DISKUSI UGM

Kampus

Jakarta, MajalahPerwira - Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid mengutuk keras teror dan ancaman pembunuhan terhadap wartawan, narasumber serta panitia diskusi di Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta.

Hal tersebut disampaikan politisi yang akrab disapa HNW tersebut kepada para wartawan, Minggu (31/5/2020).

Menurut HNW, diskusi sebagai salah satu bentuk mimbar akademik, merupakan pelaksanaan HAM. Karena itu seharusnya tidak diberangus, tapi dihormati serta dibebaskan dari intervensi apapun dan siapapun.

"Saya meminta aparat kepolisian turun tangan mengusut peristiwa tersebut, guna menyelamatkan praktek ber-Pancasila dan berdemokrasi. Sekaligus menjaga eksistensi Indonesia sebagai negara demokrasi dan hukum," kata HNW.

Politisi PKS itu menilai, jika ancaman seperti ini dibiarkan, akan menjadi trend serta bom waktu diabaikannya Pancasila.

"Pembiaran terhadap ancaman, juga akan menyuburkan praktek Negara Democrazy dan Hukum Rimba yang tak sesuai dengan Ideologi Pancasila," tegasnya.

HNW mengatakan, teror, intimidasi, dan ancaman pembunuhan terhadap wartawan, narsumber, dan panitia adalah kejahatan yang tidak sesuai dengan ideologi Pancasila, prinsip negara demokrasi, hukum serta tuntutan reformasi.

"Karenanya teror-teror seperti itu harus diusut tuntas, pelakunya dijatuhi hukuman keras, agar kejahatan seperti ini tak diulangi lagi,” ujarnya.

Hidayat berpendapat, di era demokrasi dan reformasi, teror serta ancaman pembunuhan untuk menunjukan ketidaksetujuan dengan pihak lain seharusnya sudah ditinggalkan dan tidak dipraktekkan lagi.

“Ini malah ada dua teror dan ancaman pembunuhan terhadap wartawan dan kegiatan di kampus, yang dipertontonkan dengan vulgar kepada publik. Bahkan membuat diskusi ilmiah di kampus UGM sampai dibatalkan. Cara-cara semacam ini seharusnya sudah tidak lagi diberi tempat di Indonesia. Polisi harus turun tangan, menegakkan hukum, mengayomi rakyat dan adil,” tukasnya.

Ancaman teror di UGM itu, lanjut HNW, makin memprihatinkan, karena mencatut nama aktivis ormas Muhammadiyah di Klaten, meski kemudian dibantah oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Klaten.

"Melihat modus tersebut, pelaku bermaksud mencemarkan nama besar Muhammadiyah. Atau memiliki motif mengadu domba," ungkapnya.

"HNW mengaku, dirinya sangat yakin kader Muhammadiyah yang terkenal dengan akhlak mulia dan intelektualitas tingginya, tidak akan menggunakan cara-cara negatif itu.

"Dengan mengusut tuntas, polisi sekaligus dapat mencegah terjadinya adu domba dan fitnah terhadap Muhammadiyah,” ujar putra mantan pimpinan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di Prambanan Klaten ini," tandasnya.

Menurut Wakil Ketua Majelis Syuro PKS ini, tindakan intimidasi kepada wartawan harus bisa mengingatkan insan pers agar lebih serius mempraktekkan kode etik jurnalistik.

"Tetapi bukan berarti bila ada yang tidak setuju dengan pemberitaan wartawan, lantas jalan keluarnya adalah teror dan ancaman pembunuhan. Dalam negara hukum seperti Indonesia, sudah ada mekanisme keberatan yang diatur oleh Undang-Undang Pers," terangnya.

HNW menyarankan apabila ada yang tidak setuju terhadap isi pemberitaan suatu media maka dapat dilaporkan saja ke Dewan Pers.

"Nanti akan dinilai apakah memang benar wartawannya yang salah kutip, atau memang narasumbernya yang salah memberikan keterangan (dan kemudian dia ralat). Jadi, bukan dengan teror dan ancaman pembunuhan,” tutur mantan Ketua MPR RI ini. MP-RON

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top