KORUPSI MENPORA, AHSANUL QOSASIH BANTAH TERLIBAT
0 Komentar 1556 pembaca
Ahsanul Qosasih

KORUPSI MENPORA, AHSANUL QOSASIH BANTAH TERLIBAT

Hukum & Kriminal

Jakarta, MajalahPerwira — Kasus Korupsi dana hibah Koni yang memenjarakan Menpora Imam Nahrowi menyerut sejumlah nama dalam persidangan yaitu Ahsanul Qosasih (BPK) dan Adi Toegarisman (Kejaksaan Agung). Namun Ahsanul Qosasih yang disebut namanya dalam persidangan membantah ikut terlibat.

“Saya tidak kenal Sespri Menpora, Miftahul Ulum yang menyeret nama saya ikut terlibat. Saya mendukung proses hukum kasus korupsi dana hibah Koni berjalan lancar dan fair tanpa ada fitnah kepada pihak lain, termasuk kepada saya sendiri,” komentar Ahsanul Qodasih kepada media di Jakarta (16/5/2020)

Sebagaimana dalam persidangan kasus korupsi dana hibah Koni (15/5/2020) Asisten Pribadi Menpora Imam Nahrowi, Miftahul Ulum mengungkapkan adanya aliran dana uang haram tersebut kesejumlah pihak ke instansi Kejaksaan Agung dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) yang diduga untuk mengamankan kasusnya. Disebutkan melalui Adi Toegarisman (Kejagung) menerima Rp.7 Milyar dan Ahsanul Qosasih (BPK) senilai Rp.3 Milyar.

Menurut Ahsanul Qosasih beredarnya namanya yang disebut Aspri Imam Nahrowi, Miftahul Ulum di persidangan tentu merugikan dirinya. Saya tidak kenal Ulum, tidak pernah bertemu bahkan berkomunikasi sekalipun dengannya.

“Aneh Ulum itu, saya ngak kenal. Saya akan senang jika bisa dipertemukan Ulum untuk mengkonfirmasi ucapan dan tuduhannya,” tegas Ahsanul Qosasih sambil menambahkan agar Ulum bisa menyampaikan kebenaran yang sesungguhnya, jangan melempar tuduhan tanpa dasar dan fakta yang sebenarnya.

Lebih jauh Ahsanul Qosasih menyampaikan bahwa Kasus dana Hibah KONI diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tahun 2016. Pemeriksaan Hibah KONI belum periode dirinya. Surat Tugas Pemeriksaan juga bukan dari dirinya.

“Saya memeriksa di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) itu pada tahun 2018 untuk pemeriksaan Laporan Keuangan. Sementara kasus dana hibah koni sudah bergulir tahun 2016,” tegasnya.

Ahsanul Qosasih menyebutkan temuan di Kemenpora memang komplit permasalahannya. Dan ini melibatkan Aspri yang masuk dalam system birokrasi Kementerian. Hal ini tidak bagus dan harus dihentikan.

Rekomendasi BPK, lanjut pria berdarah Madura itu, tegas demi perbaikan di Kemenpora. Dan sejak 2018 sampai saat ini sudah mulai ada perbaikan yang sangat signifikan.

Sementara Adi Toegarisman yang juga disebut-sebut namanya ikut menerima dana haram korupsi dana hibah Koni, ketika dikonfirmasi wartawan belum merespon hingga berita ini diturunkan.

Sebagaimana diberitakan di https://www.beritasatu.com/nasional/633363/aspri-imam-nahrawi-ungkap-aliran-uang-ke-achsanul-qosasi   nama anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi disebut dalam sidang lanjutan perkara dugaan suap dana hibah KONI dan gratifikasi dengan terdakwa mantan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jumat (15/5/2020).

Miftahul Ulum, asisten pribadi Imam Nahrawi yang dihadirkan sebagai saksi mengungkap adanya aliran uang sebesar Rp 3 miliar ke Achsanul Qosasi terkait temuan BPK di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora).

Selain dugaan aliran dana ke BPK, Ulum juga menyebut dugaan aliran uang ke Kejaksaan Agung (Kejagung). Diduga itu uang untuk pengamanan perkara.

Mulanya, penasihat hukum terdakwa Imam Nahrawi awalnya menanyakan maksud pertemuan Ulum di Arcadia, Jakarta Selatan yang dihadiri Ending Fuad Hamidy selaku Sekjen KONI dan Johnny Awuy selaku Bendahara KONI. Menjawab hal itu, Ulum menyebut pertemuan itu membahas permasalahan proposal bernilai puluhan miliar.

"Bahwa saya ditemui saudara Hamidy, Johny Awuy di Arcadia ‎membahas permasalahan proposal Rp 25 miliar yang dicairkan bulan Desember 2017. Proposal Rp 25 miliar itu terperiksa oleh Kejaksaan Agung. Pertama itu yang harus diketahui. Pada 2017 akhir itu pencairannya," ungkap Ulum saat bersaksi di persidangan.

Ulum menuturkan, saat itu, Hamidy bersama Lina Nurhasanah selaku Wakil Bendahara Umum KONI menemuinya sekitar bulan Januari atau Februari. Dalam kesempatan itu, kedua pejabat KONI itu menyampaikan kepada Ulum mengenai adanya temuan BPK dan Kejaksaan Agung terkait anggaran di Kempora.

"Bulan Januari - Februari saya ditemui Lina sama Hamidy bahwa ada temuan di sana yang harus segera diselesaikan. Kejaksaan Agung sekian, BPK sekian dalam rangka pemenuhan penyelesaian perkara. Karena mereka bercerita temuan ini tidak ditanggapi oleh Sesmenpora kemudian bercerita untuk disampaikan ke Pak menteri," ujar Ulum.

"Saya kemudian mengenalkan seseorang kepada Lina meminjamkan uang untuk mencukupi uang itu dulu. Saya meminjamkan uang atas nama saya mengatasnamakan Liquid bersama Lina meminjam uang untuk mencukupi uang Rp 7 miliar untuk mencukupi dulu dari kebutuhan Kejaksaan Agung, terus kemudian Rp 3 miliar untuk BPK, itu yang harus dibuka," tutur Ulum.

Majelis hakim lantas meminta Ulum menjelaskan secara detail pengakuannya. "Saudara saksi tolong detail ya, sekian sekian itu berapa? Saudara tahu nggak?," tanya Hakim Rosmina.

"Tahu yang mulia. BPK nya Rp 3 miliar, Kejaksaan Agungnya Rp 7 miliar yang mulia," jawab Ulum.

Ulum tak merinci asal muasal uang tersebut. Namun, salah satu sumber uang itu berasal dari KONI.

"Semua uang disiapkan dulu. Saya membantu Lina waktu itu sekitar Rp 3-5 miliar. Lainnya diambilkan dari uang KONI," kata Ulum.

Dalam persidangan, Ulum menyebut kesepakatan terkait pemberian uang itu terjadi antara Ending Hamidy dan Ferry Hadju. Menurut Ulum, Ferry Hadju merupakan salah satu Asisten Deputi Internasional di Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Kempora.

"(Ferry Hadju) salah satu Asdep Internasional di Prestasi Olaharga yang biasanya berhubungan dengan orang Kejagung itu, sama yang BPK (inisial) AQ itu Mister Y. Mister Y itu kalau ceritanya Ferry Hadju itu kalau ngga salah Yusuf atau Yunus. Kalau yang ke Kejaksaan Agung itu namanya Fery Kono, yang sekarang jadi Sekretaris KOI (Komite Olahraga Indonesia)," tutur Ulum.

Penasihat Hukum Terdakwa pun menanyakan siapa yang dimaksud inisial AQ tersebut.‎

"Bisa disebutkan inisial QA orang BPK yang terima Rp 3 miliar tadi?," tanya salah satu kuasa hukum.

"Achsanul Qosasi," jawab Ulum.

"Kalau yang Kejaksaan Agung?," kata kuasa hukum kembali bertanya.
"Adi Toegarisman," jawab Ulum. MP-TIM

 

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top