PENGUATAN NASIONALISME DAN ISLAM NUSANTARA
0 Komentar 1410 pembaca

PENGUATAN NASIONALISME DAN ISLAM NUSANTARA

Opini

Malang, MajalahPerwira- Sejarahalisme dimaknai sebagai kepercayaan dan tindakan politik untuk mengubah secara radikal status Indonesia sebagai bangsa terjajah menjadi bangsa merdeka nasionalisme memiliki beberapa prinsip yaitu prinsip kebersamaan menuntut setiap warga negara untuk menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan, prinsip persatuan dan kesatuan menuntut setiap warga negara harus mampu mengesampingkan pribadi atau golongan yang dapat menimbulkan perpecahan dan anarkis (merusak), untuk menegakkan prinsip persatuan dan kesatuan setiap warga negara harus mampu mengedepankan sikap kesetiakawan sosial, perduli tehadap sesama, solidarias dan berkeadilan sosial dan prinsip demokrasi yang memandang bahwa setiap warga negara mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama. Dalam kalimat lain, nasionalisme Indonesia bertujuan untuk meruntuhkan sistem kolonialisme dan imperialisme dalam bentuk apapun.

Seharusnya, perjuangan politik ummat Islam menekankan pada penguatan nasionalisme Indonesia dengan memperkokoh factor perekat kebangsaa sejarah,tuturnya, hubungan Islam dan nasionalisme telah berlangsung sejak didirikannya Republik Indonesia. Ia mencontohkan perumusan dasar negara telah terjadi perdebatan sengit antara soekarno di satu pihak dengan Muhammad Nasir, Wahid Hasyimn, Sukirman, Muhammad Roem dan Agus Salim maupun lainnya yang pada akhirnya sepakat dengan pancasila. Oleh karena itu, seorang muslim harus percaya nasionalisme tidak bertentangan dengan Islam bahkan merupakan bagian dari Islam itu sendiri. Begitu pula Islam tidak anti nasionalisme melainkan senyawa.

Indonesia dengan wilayah begitu luas dan etnis yang sangat beragam alhamdulillah selamat dari perpecahan. Gelombang keempat demokrasi yang melanda Indonesia beriringan krisis moneter, keuangan dan politik sejak akhir 1997 dan berlanjut sepanjang 1998-1999 tidak berujung pada apa yang disebut sebagai ‘balkanisasi’, yaitu disintegrasi Indonesia menjadi sejumlah negara seperti terjadi di Semenjung Balkan, Eropa Timur. Indonesia tetap bertahan. Meski masih menyisakan sejumlah agenda reformasi politik, Indonesia relatif berhasil dalam konsolidasi demokrasinya.

Indonesia dengan penduduk mayoritas Muslim menjadi show case, contoh keberhasilan, kompatibilitas antara Islam dan demokrasi. Melihat Dunia Islam lebih luas, sulit menemukan negara berpenduduk mayoritas Muslim lain yang berhasil dalam transisi dan konsolidasi demokrasinya. Di kalangan umat Islam Indonesia bangkit kembali kembali gagasan tentang pembentukan negara Islam (dawlah Islamiyyah) atau setidaknya perubahan UUD 1945 dengan mengembalikan ‘Piagam Jakarta’ yang memungkinkan pemberlakuan syari’ah Islam oleh negara.

Islam Nusantara meneladani prinsip hidup ulama Nusantara yang dicontohkan Wali Sanga. Islam Nusantara adalah pelestarian kebudayaan Nusantara yang sesuai dengan ajaran IslamIslam kita mempertahankan tradisi, bersikap rahmah terhadap pemeluk agama lain. Islam kita bukan agama yang suka memaksa, menebar teror, menyebabkan kerusakan di muka bumi. Hal itu telah dicontohkan oleh Wali Sanga ratusan tahun lalu. Jati diri itu yang kita ikuti.

Imam Ghazali juga menjelaskan, dalam Alquran surah Ali Imran ayat 200 dikatakan "Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." dalam hadist shahih Al Bukhari, Rasulullah mengatakan, "Wahai manusia, janganlah kalian mengharapkan mencari musuh, mintalah kepada Allah keselamatan. Tetapi jika bertemu dengan mereka, bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga di bawah naungan pedang." Ghazali juga menyebut banyak ayat di Alquran dan hadits secara menyatakan jika bumi adalah milik Allah dan negara milik Allah, sehingga, manusia khususnya umat Muslim punya kewajiban dalam menjaganya. Selain itu, Islam merupakan agama yang menentang penjajahan dengan alasan apapun. Karena itu di sarankan kepada umat islam untuk senantiasa menanamkan dalam diri kita dalam keyakinan kita adalah Islam berlandaskan al-Qur`an dan Hadits, itulah referensi umat Islam seluruh dunia.

Konsep Islam Nusantara sangat berperan penting dalam mempersatukan bangsa Indonesia. Bila kita lihat sejarah, pada 1960-an meletus pemberontakan Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo (Jawa Barat), Daud Beureuh (Aceh), dan Kahar Muzakkar (Sulawesi Selatan). Meski awalnya sebagian sejarawan menganalisisnya sebagai persoalan politik, namun dalam perkembangannya ditemukan bahwa ada aspek teologis dalam pemberontakan itu, yaitu mempertentangkan antara nasionalisme dan Islam.

Nasionalisme adalah suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan, dengan itu masyarakat suatu bangsa akan merasakan adanya kesetiaan yang mendalam kepada bangsa itu sendiri. Nasionalisme diperlukan bagi seluruh masyarakat Indonesia termasuk umat Islam , akan tetapi jika ada hal yang kontradiktif antara sikap nasionalisme atau toleransi dengan ajaran Islam itu sendiri maka agama harus di dahulukan dengan tidak mengartikan antinasionalisme.

Salsabila Eka Fadia

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top