MAS NADIEM, ANDA TIDAK BISA JADI DOSEN MANAJEMEN
0 Komentar 2138 pembaca

MAS NADIEM, ANDA TIDAK BISA JADI DOSEN MANAJEMEN

Opini

Jakarta, MajalahPerwira - Mas Nadiem, nama saya Ikhsan. Saya adalah lulusan program MBA di salah satu perguruan tinggi terbaik tanah air. Mungkin masih kalah dengan Anda, yang lulusan program MBA dari perguruan tinggi terbaik dunia. Tapi, secara nomenklatur gelar (title), kita sama-sama MBA (Master of Business Administration).

Saya hanya ingin bercerita, bahwa saya mendaftar seleksi CPNS Kemendikbud tahun 2019 ini untuk posisi sebagai dosen jurusan Manajemen di sebuah PTN. Hari ini, Ahad tanggal 22 Desember 2019, keluar pengumuman kelulusan seleksi administrasi. Apa hasilnya? Wow, saya tidak lulus!

Well, personally, it doesn’t matter for me. Tapi, yang membuat saya tertarik mempersoalkan ini adalah karena alasan ketidaklulusan saya. Dalam website pengumuman tertulis “Alasan TMS dari verifikator: Kualifikasi pendidikan tidak sesuai”.

Memang saya sudah merasa was-was sejak awal sebelum saya memutuskan untuk mendaftar sebagai dosen jurusan Manajemen. Mengapa? Karena berdasarkan pengumuman yang ada, syarat kualifikasi yang dibutuhkan adalah S2 Ilmu Ekonomi / S2 Magister Manajemen / S2 Manajemen / S2 Manajemen dan Bisnis / S2 Manajemen. Sementara saya sendiri adalah lulusan S2 Magister Administrasi Bisnis atau Master of Business Administration.

Sebelumnya, saya sudah berkonsultasi kepada beberapa teman dosen tentang perbedaan nomenklatur tersebut. Rata-rata mereka berkata “coba saja dulu, siapa tahu lulus seleksi administrasi”. Dan saya pun mencoba. Dan hasilnya: saya tidak lulus.

Mas Nadiem, saya tidak tahu bagaimana kurikulum dan mata kuliah untuk program MBA di Harvard, almamater Anda itu. Tapi untuk MBA saya, setelah saya bandingkan, sebetulnya secara esensial, kurikulum program S2 MBA yang telah saya tempuh sangat mirip dengan kurikulum program S2 Magister Manajemen. Toh, MBA juga sebetunya secara esensi sama dengan S2 Manajemen dan Bisnis, yang merupakan syarat kualifikasi untuk posisi dosen Manajemen yang saya lamar. Tapi kenapa kualifikasi pendidikan saya dinilai tidak sesuai? Apa karena S1 saya tidak linear? Setahu saya, posisi dosen sudah tidak harus linear antara S1 dan S2.

Setahu saya, Mas Nadiem sendiri lulus S1 dari jurusan Hubungan Internasional. Tidak linear dengan S2 Anda. Artinya, kita berdua sama-sama MBA, dan sama-sama tidak linear.

Dalam batin saya berkata: Kalau begitu, seandainya seorang Nadiem Makarim mendaftar sebagai dosen di jurusan Manajemen, seharusnya Anda juga ditolak.

Ya, tentu orang hebat sekelas Anda tidak mungkin mendaftar sebagai CPNS dosen. Tapi mungkin, who knows, anda suatu kelak nanti akan mengajar di Perguruan Tinggi Swasta (PTS) untuk program Manajemen. Seandainya kelak saya protes, kenapa anda bisa mengajar Manajemen di PTS? Kemudian jika Mas Nadiem menjawab: “Itu kan kebijakan kampus swasta, boleh-boleh saja!”.

Jika begitu, saya akan bertanya: “Apakah menurut anda kebijakan kampus swasta itu lebih maju/baik, karena lebih melihat esensi daripada sekadar nomenklatur gelar?”. Jika anda menjawab ya, maka saya akan bertanya kembali: “Kenapa sewaktu anda menjadi Mendikbud, anda tidak membuat kebijakan seperti itu, yang lebih mementingkan esensi kurikulum daripada nomenklatur gelar?

Mohon maaf, disini saya tidak persoalkan kompetensi, melainkan kurikulum dari pendidikan yang menjadi syarat kualifikasi dosen. Bisa saja, sebuah PTS mengangkat orang sekelas Mas Nadiem sebagai dosen Manajemen, karena kompetensi sebagai CEO bisnis sukses.

Dalam konteks ini, tentu saya tidak ada bandingannya dengan orang seperti Anda. Namun, yang saya persoalkan adalah kurikulumnya. Jika kurikulum S2 MBA dianggap tidak masuk kualifikasi mengajar di jurusan Manajemen, maka Anda, sehebat apapun, seharusnya juga tidak boleh mengajar. Inilah logika yang dibangun oleh panitia seleksi CPNS Kemendikbud. Dan anda, diam saja?

Terlepas dari itu semua, Mas Nadiem, bukankah Anda sekarang sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan Pendidikan 4.0? Revolusi Industri 4.0? Link and match antara pendidikan dan dunia industri? Lalu, jika lulusan MBA yang secara pendidikan seimbang antara dimensi keilmuan dan professional/industri dinilai tidak masuk kualifikasi sebagai dosen manajemen, lalu sebenarnya apa yang anda inginkan?

Apakah orasi-orasi Anda selama ini hanya retorika belaka? Secara pribadi, saya punya ekspektasi kepada Anda untuk mendobrak aturan-aturan yang terlalu kaku dan tidak substantif di dunia pendidikan Indonesia. Aturan semacam ini salah satu yang menurut saya harus anda benahi.

(Surat Terbuka Untuk Mendikbud Nadiem Makarim, MBA)

Salam hormat,
Moh. Ikhsan Kurnia, MBA.

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top