LSM LIRA DUKUNG POLISI AWASI PENYEBARAN NARASI KEBENCIAN MELALUI MESJID
0 Komentar 1349 pembaca

LSM LIRA DUKUNG POLISI AWASI PENYEBARAN NARASI KEBENCIAN MELALUI MESJID

Nasional

Jakarta, MajalahPerwira —- Statemen Kapolri Idham Azis yang meminta aparat awasi penyebaran narasi kebencian di mesjid-mesjid jadi viral. Banyak yang berprasangka negatif terhadap Polisi. Namun pendapat berbeda dan justru mendukung pengawasan itu datang dari Presiden LSM LIRA (Lumbung Informasi Rakyat), HM. Jusuf Rizal

Dalam laman Facebook HM.Jusuf Rizal yang diposting, 4 Desember 2019, pria yang juga Sekjen Perkumpulan Perusahaan Media Online Indonesia (MOI) itu secara jelas memberikan pelurusan informasi tentang berita Kapolri Idham Azis yang meminta aparat awasi ceramah dengan narasi kebencian di mesjid-mesjid.

Menurut Jusuf Rizal, yang dimata-matai bukan mesjidnya, tapi bilamana mesjid dijadikan tempat untuk menyebar intoleransi melalui ceramah-ceramah yang memprovokasi dengan konten radikalisme atau yang mampu menciptakan instabilitas, merongrong Pancasila sebagai ideologi negara, merusak persatuan kesatuan, apalagi mengajak untuk menjadikan Indonesia sebagai negara khilafah.

Lebih jauh menurut pria berdarah Madura-Batak itu, sudah menjadi kewajiban aparat menjaga hal-hal yang dapat merusak kedamaian dalam keberagaman. Negara dan pemerintah telah menjamin dalam UUD 1945 tentang kebebasan berkumpul, berserikat dan menyuarakan pendapat, tentu saja termasuk beribadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing umat.

Tapi setiap masyarakat, apapun agamanya, wajib memiliki rasa cinta tanah air. Tidak boleh egois, seolah “diri kita” yang paling benar, sementara agama orang tidak.

“Kita harus bisa menghormati pilihan setiap orang, sebagaimana dalam agamaku, “Islam” menyebut, “Bagimu Agamamu dan Bagiku Agamaku”. Allah telah menciptakan perbedaan di negeri ini sebagai kekuatan NKRI. Itu kita sebut demokrasi yang bertanggung jawab,” tegasnya

Kita tidak boleh berburuk sangka terhadap aparat, jika kita tidak memiliki niat buruk pada negara. Sejak zaman orba, pemerintah mengawasi isi ceramah di tempat ibadah, karena rawan dijadikan tempat bagi orang-orang yang berpikiran sempit sekalipun ia ahli ibadah. Namun dulu dilakukan secara diam-diam oleh intelijen dan jaringannya. Kini di era revolusi industri 4.0 ini semua serba transparan.

Sebenarnya, lanjutnya urusan melawan radikalisme dan intoleransi bukan cuma tugas Polisi, setiap warga negara sebagai Civil Society Organization wajib ikut bertanggung jawab untuk menciptakan kedamaian di negeri ini. Itu kita sebut bela negara. Untuk itu masyarakat juga punya hak dan kewajiban sosial mengawasi jika ada penyebaran narasi kebencian di Mesjid. Pengurus mesjid harus ikut mencegah itu, bukan hanya Polisi.

Tapi urusan ruang pribadi untuk menjalankan ibadah sesuai kepercayaan masing-masing, siapapun tidak berhak melarang, termasuk Polisi. Setiap orang ingin masuk surga dengan cara menjalankan ibadah yang baik, menjauhi larangannya, berdoa, bersedekah, dll.

“Secara Pribadi Saya setuju Pemerintah mengawasi konten ceramah dengan narasi kebencian di mesjid yang mampu merobek persatuan dan kesatuan. Jika dibiarkan akibat penyebaran narasi kebencian, radikalisme dan intoleransi efeknya lebih dasyat dari Korupsi. Membuat negara pecah seperti di negara lain. Ini ujian bagi kita untuk merawat kedamaian dalam keberagaman,” tegasnya

Pria kader NU itu juga menyebutkan, tidak peduli pada orang bersorban atau tidak, karena tampilan itu bukan jaminan masuk surga. Ibadah dan kebaikan kita lah yang bisa menyelamatkan diri kita dari neraka untuk dapat masuk surga. Semua orang, agama apapun dan termasuk Polisi ingin masuk surga. Untuk itu jalankan ibadah yang baik sesuai kepercayaan masing-masing, tapi kita juga menghargai pilihan agama orang lain.

Indonesia kuat bukan karena homogenitas, tapi karena heterogenitas yang terpelihara dalam demokrasi bertanggungjawab yang membuat negeri ini masih terus damai.

“Jangan biarkan siapapun merobek keberagaman kita, sebab itu akan menjadi malapetaka bagi kita dan anak cucu,” tutur pendiri LSM LIRA peraih Leadership Award itu. MP-RED

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top