IPW: POSISI KABARESKRIM MASIH KOSONG, ADA INDIKASI INTERVENSI KEKUASAAN?
0 Komentar 1233 pembaca

IPW: POSISI KABARESKRIM MASIH KOSONG, ADA INDIKASI INTERVENSI KEKUASAAN?

Nasional

Jakarta, MajalahPerwira - Mutasi terhadap 206 perwira Polri kemarin sangat menarik untuk dicermati karena ada yang sangat aneh. Yakni, posisi Kabareskrim yang kosong dan sangat vital untuk diisi oleh figur baru justru belum terisi dalam mutasi ini. Ada apa dengan Polri?

"Ind Police Watch (IPW) menilai, mutasi di tubuh polri kali ini terlihat sangat aneh. Bagaimana tidak, yg posisinya kosong sekarang inikan jabatan kabareskrim setelah Idham Azis menjadi Kapolri, tapi kenapa jabatan yg kosong itu belum diisi dalam mutasi ini, justru yang dimutasi sejumlah posisi yg sesungguhnya belum begitu mendesakkan untuk direposisi," ujar Ketua Presidium Ind Police Watch, Neta S Pane. Dari mutasi kali ini IPW menilai ada empat fenomena yg patut dicermati dalam perkembangan dinamika di tubuh polri.

Pertama, adanya tarik menarik yg kuat menyangkut posisi Kabareskrim. Ada indikasi intervensi jalur kekuasaan untuk mendudukkan figur tertentu sebagai Kabareskrim, sementara internal polri menilai figur tsb masih sangat junior dan menginginkan tampilnya figur senior yg menjadi Kabareskrim baru. Tarik menarik ini membuat penunjukan Kabareskrim yang baru berjalan sangat alot tidak secepat penunjukkan plt Kapolri maupun Kapolri baru, sehingga TR mutasi yang keluar Jumat siang itu tidak bisa menampilkan Kabareskrim baru.

Kedua, dari mutasi ini terlihat Idham Azis sbg kapolri baru mulai menunjukkan kekuatannya dgn menyusun orang orangnya maupun pendukungnya. Penempatan Niko Alfinta dan M Fadil dalam mendapat job bintang dua di staf ahli Kapolri makin nyata menunjukkan bintang mereka bakal bersinar terang, sehingga diprediksikan dalam waktu dekat keduanya akan segera menjadi Kapolda Sumut dan Kapolda Sulsel. Ketiga, mutasi ini menunjukkan juga secara nyata bahwa "kekuatan lama" di polri begitu cepat digeser Idham dan figur figur milik kekuatan lama itu ditempatkan pada posisi posisi yg kurang strategis dan turun kelas.

"Sehingga, adanya isu tiga matahari yang sempat menerpa polri sepertinya bakal lenyap. Sebab lewat mutasi ini terlihat kekuatan kekuatan lama tsb mulai digeser dan kekuatan baru mulai muncul memperkuat posisi," katanya. Pane mempertanyakan, apakah pergeseran pergeseran ini akan membuat polri makin terkonsolidasi, publik harus menunggu mutasi mutasi lanjutan. Namun dengan adanya tarik menarik yg kuat menyangkut posisi Kabareskim menunjukkan matahari matahari di polri makin menunjukkan pengaruhnya. Tidak seperti dalam penunjukkan plt Kapolri dan Kapolri baru, mereka cenderung landai.

Fenomena keempat, selama ini polisi yg menjadi ketua KPK adalah jenderal bintang dua (Irjen) purnawirawan dan itu tidak ada masalah. Jika sekarang ketua KPK terpilih Firli dinaikkan pangkatnya menjadi bintang tiga sebelum menduduki kursi ketua KPK berarti ada perubahan strategi di tubuh polri dlm melihat keberadaan lembaga anti rasuha tsb. Perubahan strategi itu bisa jadi untuk memperkuat KPK dgn pimpinan jenderal bintang 3 dan sekaligus memperkuat wibawa ketua KPK agar tidak mudah dilecehkan atau dianggap remeh oleh pegawai KPK maupun oleh wadah Pegawai kpk. Dgn naiknya pangkat ketua KPK menjadi Komjen otomatis keberadaan kpk setara dgn BNN maupun BNPT, yg selama ini dipimpin jenderal bintang tiga. "Dampak lainnya, ketua KPK Komjen firli berpeluang pula untuk menjadi calon kapolri pasca idam Azis yg akan pensiun pada januari 2021," pungkasnya. MP-RED

 

 

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top