BALAPAN METROMINI
0 Komentar 1120 pembaca

BALAPAN METROMINI

Opini

Jakarta, MajalahPerwira -Sewaktu masa kuliah saya langganan naik Metromini.Karena Alat transportasi ini di percaya tercepat di segala medan .

Trayek Metromini di Jakarta pada waktu itu bukan melulu di jalan utama. Bahkan masuk ke jalan-jalan sempit. Yang hanya cukup dua mobil dengan kondisi jalan pas pasan.

Setiap kali naik, jika ada kursi kosong saya suka duduk di depan. Bukan apa-apa. Saya suka kalau ada Metromini lain mendekat. Supir dan kernet pasti naik terbakar semangat pembalapnya . Langsung tancap gas dan kontan lupa dengan rem atau memang rata rata rem di metromini sudah rusak.

Bayangkan Metromini yang badannya besar itu harus ngepot di tengah jalan yang gak terlalu lebar. Meliuk. Saling mencari celah untuk menyusul. Dan saya memegang pinggir kursi dengan erat.

Saya perhatikan kernet yang gelantungan di depan pintu saling meledek dengan kernet rivalnya termasuk sang sopir juga terkadang ikut saling caci dalam bahasa daerah yang saya tidak mengerti. Mereka berteriak, sambil tetap mencari penumpang.

Kalau Metromini di belakang berhasil nyalip, karena yang depan harus menurunkan penumpang, misalnya suara kernetnya riuh. Mengejek lawannya.

Kadang Mereka tertawa-tawa dalam rally seru itu. Kadang mereka juga seolah olah bersikap marah dan tersinggung Saya ikut mau tidak maub menikmatinya dengan deg deg gan . Entahlah penumpang lainnya yang terguncang-guncang. Apa mereka bisa menikmati seperti saya?

Setiap pulang atau pergi sekolah, saya berharap nanti akan ada balap seru. Inilah hiburan saya melawan udara Jakarta yang gerah.

Ketika sampai di terminal, biasanya keduaa kernet yang tadi saling ngepot itu bertemu. Tertawa dengan ledekan-ledekan khas dengan bahasa daerah sumatra utara . Mereka menuju kedai kopi kecil. Ngopi dalam satu gelas bersama sampai berbagi rokok.

Sebagai penumpang, ketika terjadi rally, saat itu saya pasti menjagokan mobil yang saya tumpangi. Lawannya adalah "musuh" saya. Tapi mungkin besok saya malah naik Metromini yang kemarin jadi lawan. Lalu saling rally dengan Metromini lainnya.

Artinya, sebagai penumpang saya tidak fanatik. Saya cuma akan mendukung mobil siapa saja yang saya tumpangi.

Masa-masa itu memang menyenangkan.

Saya menjadi Penumpang Metromini , saya anggap santai ketika berpolitik. Pilpres sudah sampai di terminal, Pileg sudah selesai di warung kopi terminal, tetapi banyak penumpang atau simpatisannya tidak sadar bahwa kompetisi sudah ada di garis finish

Mereka para penumpang masih terbawa emosi , lalu tetap saja baku hantam sampai di luar terminal , padahal para sopir dan kernet yang saling berkompetisi di jalan sudah ngupi bareng bersama polantas dan petugas dishub

Jakarta , 6 November 2019.

Noor Fajar Asa, Penanggung jawab Jaringan Satu Matahati untuk Jokowi-Maruf

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top