HMI DAN KESESATAN?
0 Komentar 1172 pembaca

HMI DAN KESESATAN?

Opini

Gowa, MajalahPerwira  – Baru-baru ini, puluhan kampus telah merayakan pesta penyambutan mahasiswa baru tahun ajaran 2019. Peristiwa ini sudah menjadi agenda tahunan di setiap Perguruan Tinggi (PT), baik negeri maupun swasta, untuk memperkenalkan budaya kampusnya dengan berbagai konsep yang bergantung pada kebudayaan masing-masing. Harapannya, peserta dapat memahami atau kebudayaan kampus yang katanya berorientasi untuk mencetak kaum terdidik.

Menariknya, ketika penyelenggaraan berlangsung, dapat kita temukan calo-calo yang bergentayangan menghantui para Mahasiswa yang polos dan suci. Mulai dari bentuk fisik sampai kedunia maya yang nyentrik. Pendekatan persuasif pun dilakukan untuk kepentingan tertentu, seperti kebutuhan ekonomi, penambahan followers, sampai teman chat yang dibungkus dengan motif pengenalan kampus.

Momentum ini juga banyak dimanfaatkan Organisasi Kemasyarakat dan Pemuda (OKP) untuk memperbanyak anggotanya. Sebutlah dua organisasi besar di kampus UIN Alauddin Makassar yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang selalu bersaing secara sehat (harapan yang bisa jadi utopis) untuk merekrut mahasiswa-mahasiswi baru.

Sebagai organisasi mahasiswa yang notabenenya Islam, seharusnya kedua organisasi menjalin hubungan dialektis dan pertukaran gagasan, bukan hanya pergumulan politik dan perebutan kekuasaan.

Melihat khittah dan kiprah organisasi mahasiswa yang hari ini cenderung dijadikan partai politik oleh beberapa oknum, sudah seharusnya kita selaku generasi millenial perlu meluruskan itu dengan cara-cara dan mekanisme yang sehat dengan menggunakan piranti intelektual yang telah Allah sajikan untuk kita.

Idealitas organisasi mahasiswa tentu ingin menumbuhkembangkan kemampuan nalar dan menjadi alternatif untuk memenuhi kebutuhan mahasiswa.

Penulis dalam hal ini, membaca sebuah aksara dalam media sosial (WhatsApp) yang sedikit menyentuh unsur vital organisasi dengan menyebarkan hatespeech tanpa menyertakan alat bukti, penelitian yang mapan, serta menggunakan usia dan senioritas untuk melegitimasi syahwat kekuasaannya.

“Himpunan mahasiswa islam itu sesat karena organisasi islam tapi bahasnya keadilan”, kurang lebih begitu kata seorang oknum yang cuti nalar dan defisit moral, mungkin karena virus tuna pustaka sudah mewabah dan menjangkit sehingga membahas Islam selalu dibenturkan dengan keadilan.

Meminjam istilah pak Syamsuddin Arif, mahasiswa diabolik yang berpaham diabolisme seperti ini cenderung mempreteli, menggunting, dan menyembunyikan Kebenaran seolah-olah menjadi bathil, dan memoles yang bathil seolah-olah Haq.

Satu poin yang paling krusial yang harus kita renungkan. Sejarah mencatat bahwa seorang motor penggerak PMII, dan Ketua Umum PB PMII yang pertama sekaligus pendiri, bernama Mahbub Djunaidi, ternyata merupakan kader HMI yang aktif di pengurus besar.

Sejatinya, jika kita mau jujur dan bersikap adil, kita dapat merefleksikan Islam yang sejatinya nilai-nilai universal itu tidak melulu bicara tentang shalat, puasa, tauhid, dan ritus keagamaan saja. Jika diteliti lebih lanjut, kita akan menemukan hanya 30 persen dari diktum agama yang mengatur peribadatan vertikal, mengingat fitrah manusia yang cenderung pada kebenaran (hanief). 80 persen sisanya, Islam banyak membicarakan mengenai persoalan ilmu,  mua’malah, keadilan, toleransi, dan egalitarianisme.

Islam yang senantiasa terus relevan dengan nilainya yang universal tidak layak untuk dimonumenkan, apalagi hanya dianggap sebagai ibadah ritus semata. Tema keadilan menjadi fokus pembahasan ketika melihat Islam sebagai nilai yang seimbang, karena tauhid dan penghambaan kepada Allah sejalan dengan amal shaleh dan penegakan keadilan di muka bumi.

Hal ini dapat kita refleksikan dari ayat “shalat” yang selalu beriringan dengan “zakat”. Di satu sisi, keberpihakan Islam kepada kaum mustadhafin menjadi pondasi pembahasan penting untuk menghayati dan mengamalkan ajaran Islam. Kritik terhadap kapitalisme dan pengumpulan modal misalnya, direkam dalam Al Qur’an surah Al-humazah dan Islam dengan jelas mengecam para penghamba materi dan kapital yang sesungguhnya merupakan kejahatan kemanusiaan kedua setelah syirik.

Tentu, tudingan bahwa Islam tidak mengajarkan keadilan, dan kesesatan HMI karena tidak membahas keislaman menjadi absurd, bahkan sangat memalukan bagi kaum yang bertengger dibalik gelar mahasiswa yang berjubah Islam. Mungkin inilah yang menjadi bagian vital pembaharuan mendiang Nurcholis Madjid melihat kejumudan ummat Islam di Indonesia yang menganggap Islam hanya sebagai komunitas, merk, dan simbol tanpa menghayati dan mengamalkan nilainya, serta cenderung melekatkan kualitas ketuhanan kepada selain kebenaran (syirik).

Akhir kata, tulisan ini berupaya menjelaskan, menjernihkan, dan mempertegas posisi Islam sebagai nilai yang universal dan merefleksikan tugas manusia yang sejatinya sangat sederhana, beriman, berilmu, dan beramal, sekaligus meluruskan kesalahpahaman bani micin terhadap HMI dengan tudingan tanpa pemahaman terlebih dahulu.

Fakhri Afif - kader HMI Cabang Gowa Raya, Komisariat Syariah dan Hukum UIN Alauddin Makassar

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top