SIDANG KASUS PENISTAAN AGAMA, KETERANGAN SAKSI AHLI BIKIN AHOK TERJEPIT
0 Komentar 172 pembaca

SIDANG KASUS PENISTAAN AGAMA, KETERANGAN SAKSI AHLI BIKIN AHOK TERJEPIT

Hukum & Kriminal

Jakarta, MajalahPerwira.com – Sidang kesebelas kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Auditorium Kementerian Pertanian, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (21/2/2017) menghadirkan 3 keterangan saksi ahli.

Saksi Ahli KH. Miftachul Ahyar dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, dari 101 pilkada tidak ada satu pun isu agama yang dihembuskan untuk menjatuhkan para pesaingnya.

“Hanya Ahok yang menyinggung umat Islam, Alquran dan ulama. Jika Ahok tidak menyinggung Alquran dan ulama, Ibu Kota akan tetap kondusif, aman dan tidak gaduh,” ujar Kiai Miftachul dalam keterangannya.

Menurutnya, Ahok telah memasuki wilayah agama lain dengan mencampuri urusan agama Islam. Bahkan, di dalam Islam, soal tafsir Alquran hanya boleh disampaikan dan dijelaskan oleh para ulama, bukan sekadar Muslim biasa.

‘Yang diperbolehkan hanya ahli agama Islam saja, itu saja masih bisa diperdebatkan,” jelasnya.

Jadi, lanjutnya, kalau orang ngomong tak ada niat itu namanya sedang ngelindur. Apalagi disampaikan di pertengahan pidato, menjadi terasa sesuatu yang penting.

Menurutnya, dalam pidatonya Ahok itu ada perbuatan yang menjurus pada penghilangan pemahaman terkait agama Islam yang mana itu ada pada kalimat penodaan agama yang dilakukan Ahok dan terjadi selama kurang lebih 20 detik itu.

Maka itu, ungkapnya, kalimat penodaan agama yang terekam selama 20 detik itu dianggap sesat dan menyesatkan.

“Jadi, itu ada penyesatan, orang yang sudah memahami dengan ucapan itu akhirnya hilang dan menurun keimanannya,” terangnya.

Sementara saksi lain, Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof. DR. Yunahar Ilyas menegaskan, ucapan Ahok di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu DKI Jakarta masuk dalam pasal tuduhan. Yang dituduh berbohong bisa politikus, mubaligh, guru, bisa juga ulama.

“Dalam konteks ini yang punya otoritas mewarisi Nabi menyampaikan risalah Islam adalah ulama. Maka ucapan itu telah menistakan ulama,” kata Yunahar.

Ahok dikenakan dakwaan alternatif yakni Pasal 156a dengan ancaman lima tahun penjara dan Pasal 156 KUHP dengan ancaman empat tahun penjara. Menurut Pasal 156 KUHP, barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.

Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Sementara menurut Pasal 156a KUHP, pidana penjara selama-lamanya lima tahun dikenakan kepada siapa saja yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. MP-AZA

Author

Adm
Profil Adm

Alamat Redaksi Majalah Perwira
Graha Perwira, Gedung Gajah Blok AQ
Jl. Dr. Saharjo No. 111 Tebet - Jakarta Selatan
No. Telpon: 021-83792566/67
Email : redaksi@majalahperwira.com

Iklan Tengah Detail Berita 665x140px

Berita Terkait

Komentar



Masukan 6 kode diatas :
huruf tidak ke baca? klik disini refresh

Komentar Facebook

Back to Top